Minggu, 21 Juni 2015

Asal usul ulun Lampung

Suku Lampung
    Adalah suku yang menempati seluruh propinsi Lampung dan sebagian propinsi sumatera selatan bagian Selatan dan tengah yang menempati daerah Martapura, muaradua di Komering  Ulu, Kayu Agung, Tanjung Raja di Komerinng Ilir serta Cikoneng di pantai barat Banten.

     Asal Usul Ulun Lampung (orang Lampung /suku Lampung)
     Erat kaitannya dengan istilah Lampung sendiri, walaupun nama Lampung itu dipakai mungkin sekali baru dipakai lebih kemudian dari pada mereka memasuki daerah Lampung.
      Ada beberapa pendapat mengenai asal usul (nama) ulun Lampung:

1.  Dari catatan musafir kiongkok yang pernah mengunjungi Indonesia pada abad Vll, yaitu 1 tsing, yang di perkuat oleh teori yang dikemukakan oleh Hilman Hadikusuma, disebutkan bahwa Lampung itu berada dari kata To-lang-po-hwang. Kepanjangan dari Lampung. Jadi To-lang-po-hwang berarti orang Lampung.

2. Dr. R. Boesma dalam bukunya, De Lampungsche Districten (1916) menyebutkan, Tuhan menurunkan orang pertama di bumi bernama Sang Dewa Senembahan dan Widodari Simuhun. Mereka inilah yang menurunkan Si Jawa (Ratu Majapahit) Si Pasundayang (Ratu Pajajaran) dan Si Lampung (Ratu Balau). Dari kata inilah Lampung berasal.

3. Legenda daerah Tapanuli menyeritakan, zaman dahulu meletus gunung merapi yang menimbulkan Danau Toba. Ketika gunung itu meletus, ada empat orang bersaudara berusaha menyelamatkan diri salah satu dari empat bersaudara itu bernama Ompong Silaponga, terdampar di Krui, Lampung Barat. Ompong Silaponga kemudian naik ke daran tinggi Belalau / Skala Brak.
     Dari atas bukit itu, terhampar pemandangan luas dan menawan hati seperti daerah yang terapung. Dengan perasaan kagum, lalu Ompong Silaponga meneriakan kata " Lappung " ( berasal dari bahasa tapanuli kuno yang berarti terapung atau luas ).
         Dari kata inilah timbul nama Lampung, ada juga yang berpendapat nama Lampung berasal dari nama Ompong Silaponga itu.

4. Teori Hilman Hadikusuma yang mengutip cerita rakyat. Ulun Lampung berasal dari Skala Brak, di kaki gunung Pesagi, Lampung Barat. Penduduknya disebutkan Tumi ( Buay Tumi) yang dipimpin oleh seorang wanita bernama Ratu Sekarmong. Mereka menganut kepercayaan dinamis, yang dipengaruhi ajaran Hindu Bairawa.
      Buai Tumi kemudian dapat dipengaruhi empat orang pembawa Islam berasal dari pagaruyung, Sumatera Barat yang datang ke sama. Mereka adalah Umpu Nyerupa, Umpu Lapah di way, Umpu Pernong, dan Umpu Belunguh. Keempat Umpu inilah yang merupakan cikal bakal Paksi Pak sebagai ungkapan naskah kuno Kuntara Raja Niti. Namun dalam versi buku Kuntara Raja Niti, nama poyang itu adalah Inder Gajah, Pak Lang, sikin, belunguh, dan Indarwati.
   Berikut hipotesis keturunan ulun Lampung sebagai berikut:

·  Inder Gajah
    Gelar:          Umpu Lapah di Way
    Kedudukan: Puncak
    Keturunan:  Orang Abung
·  Pak Lang
    Gelar:          Umpu Penong
    Kedudukan: Hanibung
    Keturunan:  Orang Pubian
·  Sikin
    Gelar:         Umpu Nyerupa
    Kedudukan: Sukau
    Keturunan: Jelma Daya
·  Belungguh
    Gelar:        Umpu Belungguh
    Kedudukan: Kenali
    Keturunan:  peminggir
·  Indrawati
    Gelar:          Putri Bulan
    Kedudukan: Ganggiring
    Keturunan: Tulang Bawang

5.  Peneliti siswa sekolah Thawalib Padang Panjang pada tahun 1938 tentang asal usul Ulun Lampung. Dalam cerita Cindur Mato yang berhubungan jauh dengan cerita rakyat di Lampung disebutkan bahwa suatu ketika Pagaruyung di serang musuh dari India. Penduduk mengalami kekalahan karena musuh telah menggunakan senjata dari besi. Sedangkan rakyat masih menggunakan alat dari rubung ( ruyung ).
      Kemudian mereka melarikan diri. Ada yang melalui sungai Rokan, sebagian melalui dan terdapat di hulu sungai Ketaun di Bengkulu lalu menurunkan suku Rejang, yang lari ke utara menurunkan suku Batak. Yang terdampar di Gowa, Sulawesi Selatan menurunkan suku Bugis. Sedangkan yang terdampar di Krui, lalu menyebar di datara tinggi Skala Brak,Lampung Barat. Mereka inilah yang menurunkan suku Lampung.

Semoga informasi ini bermanfaat untuk sobat semua...
Dan terimakasih telah membaca catatan harian dewi syah....
Jangan lupa komentarnya ya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar