Jumat, 19 Juni 2015

Sejarah singkat propinsi lampung

Aku itu asli dari daerah Lampung, kurang afdol rasanya kalo aku tidak menceritakan sejarah lampung...
Nah, dalam catatan ku inilah aku akan menceritakan sejarah singkat propinsi lampung.....dan ini dibawah ini adalah ceritanya;

  Sejarah singkat propinsi Lampung
  
        Propinsi Lampung lahir pada tanggal 18 maret 1964 dengan ditetapkan peraturan pemerintah nomor 3/1964 yang kemudian menjadi undang-undang nomor 14  Tahun 1964.
Sebelum itu propinsi Lampung merupakan karesidenan yang tergabung dengan propinsi Sumatera Selatan.
        Secara administratif masih merupakan bagian dari propinsi Sumatera Selatan, namun daerah ini jauh sebelum Indonesia merdeka memang telah menunjukkan potensi yang sangat besar serta corak warna kebudayaan tersendiri yang dapat menambah khazanah adat budaya di nusantara yang tercinta ini. Oleh karena itu pada zaman VOC daerah lampung tidak terlepas dari incaran penjajahan Belanda.
        Tatkala Banten di bawah pimpinan Sultan Agung Tirtayasa (1651-1683) Banten berhasil menjadi pusat perdagangan yang dapat menyaingi VOC di perairan Jawa, Sumatera, dan Maluku. Sultan Agung ini dalam upaya meluaskan wilayah kekuasaan Banten mendapatkan hambatan karena di halang-halangi VOC yang bercokol di Batavia. Putra Sultan Agung Tirtayasa yang bernama Sultan Haji di serahi tugas untuk menggantikan kedudukan mahkota kesulitanan Banten.
       Dengan kejayaan sultan Banten pada saat itu tentu saja tidak menyenangkan VOC, oleh karenanya VOC selalu berusaha untuk menguasai kesulitanan Banten. Usaha VOC ini berhasil dengan jalan membujuk Sultan Haji sehingga berselisih paham dengan ayahnya Sultan Agung Tirtayasa.
Dalam perlawanan melawan ayahnya sendiri,sultan haji meminta bantuan VOC dan sebagai imbalannya Sultan Haji akan menyerahkan penguasaan atas daerah lampung kepada VOC akhirnya pada tanggal 7 April 1682 Sultan Agung Tirtayasa disingkirkan dan Sultan Haji dinobatkan menjadi Sultan Banten.
        Dari perundingan-perundingan antara Sultan Haji dengan VOC menghasilkan sebuah piagam dari Sultan Haji tertanggal 27 Agustus 1682 yang isinya antara lain menyebutkan bahwa sejak saat itu pengawasan perdagangan rempah-rempah atas daerah lampung diserahk
an oleh Sultan Banten kepada VOC yang sekaligus memperoleh monopoli perdagangan di daerah Lampung.
        Pada tanggal 29 Agustus 1682 iring-iringan armada VOC dan Banten membuang sauh di Tanjung Tiram. Armada ini dipimpin oleh Vander Schuur dengan membaca surat mandat dari Sultan Haji dan ia mewakili Sultan Banten. Ekspedisi Vander Schuur yang pertama ini ternyata tidak berhasil dan ia tidak mendapatkan lada yang dicari-carinya. Ternyata tidak semua penguasa di Lampung langsung tunduk begitu saja kepada kekuasaan Sultan Haji yang bersekutu dengan kampeni, tetapi masih banyak yang mengakui Sultan Agung Tirtayasa sebagai Sultan Banten dan menganggap kompeni tetap sebagai musuh.
         Setelah itu timbul keraguan-raguan dari VOC apakah benar Lampung berada di bawah kekuasaan Sultan Banten, kemudian baru diketahui bahwa penguasaan Banten atas Lampung tidak mutlak.
     Sedangkan penguasaan-penguasaan lampung asli yang terpercaya-pecah pada tiap-tiap desa atau kota yang disebut " adipati  " secara hirarkis tidak berada dibawah koordinasi penguasaan jenang / Gubernur.
       Jadi penguasaan Sultan Banten atas Lampung adalah dalam hal garis pantai saja dalam rangka menguasai monopoli arus keluarganya hasil-hasil bumi terutama lada, dengan demikian jelas hubungan Banten-Lampung adalah dalam hubungan saling membutuhkan satu dengan lainnya.
        Selanjutnya pada masa Raffles berkuasa pada tahun 1811 ia menduduki daerah Semangka dan tidak mau melepaskan daerah Lampung kepada Belanda karena Raffles beranggapan bahwa Lampung bukanlah jajahan Belanda. Namun setelah Raffles meninggalkan Lampung baru kemudian tahun 1829 di kunjungi Residen Belanda untuk Lampung.
     Pada sejak tahun 1817 posisi Raden Intan semakin kuat, Belanda merasa khawatir dan mengirimkan ekspedisi kecil dipimpin oleh Assisten Residen Krusemen yang menghasilkan persetujuan bahwa:
1.  Radin Intan memperoleh  bantuan keuangan dari Belanda sebesar f.1.200 setahun.
2.  kedua saudara Radin Intan masih-masih akan memperoleh bantuan pula sebesar f. 600 tiap tahun.
3.  Radin Intan tidak diperkenankan meluaskan lagi wilayah selain dari desa-desa yang sampai saat itu berada di bawah pengaruhnya.
     Tetapi persetujuan itu tidak pernah di patuhi oleh Radin Intan dan ia tetap melakukan perlawanan-perlawanan terhadap Belanda.
      Oleh karena itu pada tahun 1825 Belanda memerintahkan Leliever untuk menangkap Radin Intan, namun dengan cerdik Radin Intan dapat menyerbu benteng Belanda dan membunuh Leliever dan anak buahnya. Akan tetapi pada saat itu Belanda sedang menghadapi perang Diponegoro (1825-1830), maka Belanda tidak dapat berbuat apa-apa terhadap peristiwa itu. Tahun 1825 Radin Intan meninggalkan dunia dan digantikan oleh putranya yang bernama Radin Imba Kusuma.
      Setelah perang Diponegoro selesai pada tahun 1830 Belanda menyerbu Radin Imba Kusuma di daerah Semangka, kemudian pada tahun 1833 Belanda menyerbu benteng Radin Imba Kusuma, tetapi tidak berhasil mendudukinya. Baru pada tahun 1834 setelah Asisten Residen di ganti oleh perwira militer Belanda dan dengan kekuasaan penuh, maka benteng Radin Imba Kusuma berhasil dikuasai.
Radin Imba Kusuma kemudian di buang ke pulau Timor.
      Belanda masih merasa tidak aman, sehingga Belanda membentuk tentang sewaan yang terdiri dari orang-orang lampung sendiri untuk melindungi kepentingan-kepentingan Belanda di daerah Telukbetung dab sekitarnya. Perlawanan rakyat yang digerakkan oleh putra Radin Imba Kusuma sendiri yang bernama Radin Intan ll tetap berlangsung terus, sampai akhirnya Radin Intan ll ini di tangkap dan dibunuh oleh tentara-tentara Belanda yang khusus didatangkan dari Batavia.
       Belanda mulai menancapkan kakinya di daerah Lampung , perkebunan mulai dikembangkan yaitu penanaman kaityuk,tembakau,kopi,karet dan kelapa sawit. Untuk kepentingan-kepentingan pengangkutan hasil-hasil perkebunan itu maka pada tahun 1913 di bangun jalan kereta api dari Telukbetung menuju Palembang.
    Hingga menjelang Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945 dan priode perjuangan fisik setelah itu, putra Lampung tidak ketinggalan ikut terlibat dan merasakan betapa pahitnya perjuangan melawan penindasan melawan penjajah yang silih berganti. Sehingga pada akhirnya sebagai mana dikemukakan pada tahun 1964 Keresidenan Lampung ditingkatkan menjadi Daerah Tingkat 1propinsi Lampung.

    Nah , gimana perlawanan Lampung terhadap Belanda??,sangat sulit bukan, jadi kita sebagai putra putri indonesia harus menjaga tanah air kita supaya tidak di jajah oleh negara lain...,
GO INDONESIA....
TERUSLAH MAJU...
SATU BANGSA DAN SATU BAHASA...
TIDAK PERNAH TAKUT PADA SIAPAPUN YANG INGIN MEREBUT INDONESIA TERCINTA INI...

   Terimakasih kalian sudah membaca catatan harian dewi syah, semoga bermanfaat dan jangan lupa komen ya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar