100 Keping Uang Emas
Grunen , profesor dan ahli gravitasi, khusus datang ke Mataram. Pakar ilmu daya tarik ini mendengar kabar bahwa selama ini Mandoblang tak terkalahkan. Atau dengan kata lain pemerintah Belanda selalu kalah atau gagal memperdaya Mandoblang.
"Saya tak akan menggunakan pedang atau senapan atau meriam, " kata Grunen. "Saya akan mengalahkannya dalam ilmu yang sangat saya kuasai".
Caranya?
Grunen sudah melatih. Ada 20 orang lebih di suruh berdiri dengan punggung dan kedua tumit kaki berdempetan, menempel dinding. Di depannya di berikan keping uang emas.
" siapa yang dapat mengambil keping itu tampa menggeser kaki, boleh memilih keping emas tersebut, Ditambah 100 keping lagi?"
Kalau tak bisa?
" ia akan membayar 100 Keping emas."
Kalau Mandoblang tak mampu membayar? Saatnya untuk memenjarakan.
Dalam percobaan 20 orang yang mencoba gagal total. Diulangi dengan 20 yang lain, sama juga hasilnya. Dicoba lagi,sama lagi.
"Pusat gravitasi saat berdiri bergeser ketika tubuh bergerak. Artinya kaki harus di gerakan. Itu yang di larang. Bagaimana mungkin Mandoblang bisa mengambil tampa menggeserkan kaki?".
Mandoblang mendengar tantangan itu, dan seperti mudah di duga: tak menolak. Cenceng Gelonceng, yang menyertai menjadi heran. "Akung..." begitu Cenceng menyebut mesra penuh hormat kepada Mandoblang. Katanya Grunen itu sangat ahli. Semua pasti sudah diperhitungkan. Tolak saja, Akung".
"Kepandaian tak seharusnya digunakan untuk mencelakekan orang lain. Kepandaian harus di gunakan untuk menolong sesama."
"Bagaimana Akung mengalahkan?"
"Dengan membiarkan Grunen merasa menang."
"Bagaimana itu?"
Mandoblang yang hanya tersenyum.
Ada 10% yang boleh mengikuti
Selasa, 23 Juni 2015
Cerpen
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar